- Usai Selesaikan Lawatan ke Rusia dan Prancis, Prabowo Tiba di Indonesia
- Vatikan dan Vietnam Perkuat Hubungan Dengan Kunjungan Paus
- Korsel Peringatkan Warganya soal Kriminalitas di Bali
- Kasus Tewasnya WNI di Australia, Polisi Tangkap Pria 67 Tahun
- Sugianto, PMI Penyelamat Lansia Dapat Apresiasi dari Pemerintah Korsel
Haters Kesal, Proyek Keren Ahok Akan Di Jadikan Ikon Jakarta!
Potret Berita – Jakarta dan kemacetan, sepertinya tidak dapat dipisahkan. Jumlah penduduk yang super padat, dengan jumlah kendaraan yang terus bertambah setiap harinya menjadikan Jakarta salah satu kota dengan presentase kemacetan paling parah sedunia.
Flyover simpang susun semanggi, adalah wujud nyata kerja seorang Gubernur Ahok demi mengurangi kadar kemacetan di Jakarta. Dikerjakan dengan teknologi jembatan tercanggih saat ini. Dua flyover yang melingkar ini tersusun dari 333 segmental box girder yang telah dicetak (precast) untuk kemudian disusun sambung menyambung (bayangkan permainan lego). Tantangannya, jika cetakan tidak sama persis atau berbeda beberapa sentimeter saja, antara boks yang satu dan yang lain tidak akan bertemu sempurna.
Hebatnya lagi, flyover ini didesain oleh Jodi Firmasyah, ahli jembatan dari ITB yang pernah merancang Jembatan Barelang yang kini jadi ikon Pulau Batam. Simpang susun semanggi rencananya akan jadi ikon Jakarta kedua setelah Monas tak hanya menyimpan kecanggihan, tetapi estetika dengan makna personal bagi Jakarta.
Salah satu nilai estetika yang akan dinikmati warga nantinya adalah pencahayaan lampu warna-warni di sepanjang bentangnya. Merunut ke sejarah, ketika pertama kali diinisiasi pada tahun 1961, kata Semanggi yang dipilih sebagai nama jembatan tersebut berasal dari bahasa lokal (Jawa), tumbuhan Marsileaceae yang bisa dijadikan lalapan. Tanaman merambat itu hidup di semak, berdaun majemuk, dan biasa ditemukan di dekat perairan.
“Jembatan ini kita anggap seperti daun semanggi, mengapung di atas air, sehingga nanti lampunya itu bisa disetel warnanya, kemudian dengan software khusus kita berikan efek seperti gelombang air,” jelas Dani, Deputi General Manager Superintendent PT Wijaya Karya kepada wartawan.
Dani mengatakan, pakar pencahayaan dari Australia tengah mengkaji desain pencahayaan Simpang Susun Semanggi. Lampu ini nantinya bisa dikendalikan dari Balai Kota, tepatnya markas Jakarta Smart City.
Dana yang dianggarkan untuk pembangunan proyek itu yang mencapai Rp 360 miliar, yang berasal dari nilai kompensasi pengembang (CSR) PT Mitra Panca Persada, anak perusahaan asal Jepang, Mori Building Company.
Jembatan layang Semanggi ini terdiri dari dua ruas, satu ruas diperuntukkan bagi kendaraan dari arah Cawang menuju ke Bundaran Hotel Indonesia, dan satu ruas lainnya untuk kendaraan dari arah Slipi menuju Blok M. Rencananya flyover ini akan selesai dan diresmikan tanggal 17 Agustus 2017, bertepatan dengan peringatan hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Flyover ini juga merupakan proyek penunjang penyelenggaraan Asian Games 2018.
(Potret Berita)
